Kontroversi Piala Dunia dari Masa ke Masa
Cek daftar kontroversi Piala Dunia paling heboh, dari Gol Tangan Tuhan hingga drama wasit yang mengubah sejarah bola.
Kontroversi Piala Dunia – m88worldcups.com – Siapa yang tidak tahu dengan turnamen terbesar sepakbola dunia yang satu ini?
Ya, Piala Dunia, turnamen 4 tahunan ini selalu memberikan kejutan-kejutan yang memanjakan para pecinta sepak bola di seluruh dunia.
Tapi dibalik meriahnya gemerlap Piala Dunia, ada banyak juga kontroversi-kontroversi yang terjadi selama turnamen ini berlangsung.
Salah satunya terjadi di Piala Dunia 2002, di mana Italia yang dipenuhi oleh monster-monster sepak bola di masanya harus pulang di tangan Korea Selatan pada babak 16 besar karena beberapa keputusan wasit yang bisa dibilang cukup nyeleneh.
Selain itu, kita juga pasti ingat dengan insiden “Tangan Tuhan” Diego Maradona saat Argentina melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986.
Nah, dengan banyaknya kontroversi yang terjadi di pagelaran ini, kita sudah merangkum beberapa kontroversi Piala Dunia dari masa ke masa yang pastinya seru banget untuk kita ulik.
Yuk, simak bersama ulasannya!
Kontroversi Piala Dunia yang Paling Menghebohkan
1. Piala Dunia 1934
Kontroversi Piala Dunia sudah muncul sejak edisi kedua turnamen ini pada tahun 1934, ketika juara bertahan Uruguay memutuskan untuk memboikot turnamen yang diadakan di Italia.
Keputusan ini muncul karena ketidakpuasan Uruguay atas penyelenggaraan Piala Dunia 1930. Saat itu, hanya sedikit tim Eropa yang hadir di Uruguay karena ongkos yang terbilang cukup mahal untuk membawa satu tim ke benua lain saat itu.
Hal ini mengakibatkan Uruguay merasa kemenangan mereka seolah tidak dihargai secara internasional.
Sebagai bentuk protes mereka, timnas Uruguay memilih untuk tidak melakukan perjalanan ke Eropa demi mempertahankan gelarnya.
Akibatnya, Uruguay menjadi satu-satunya juara Piala Dunia yang gagal mempertahankan gelar mereka karena memilih untuk absen. Keputusan ini menjadi awal dari sejarah panjang kontroversi politik dalam Piala Dunia.
2. Piala Dunia 1938
4 tahun kemudian, pada Piala Dunia 1938, unsur politik juga terlihat sangat kental dan menghadirkan berbagai kontroversi.
Benito Mussolini, yang dikenal sebagai diktator Italia, mencoba untuk menerapkan apa yang dilakukan oleh Adolf Hitler pada Olimpiade Berlin 1936 dan menggunakan Piala Dunia 1938 di Prancis untuk propaganda politiknya.
Pada Piala Dunia edisi ke-3 ini, timnas Italia turun dengan seragam serba hitam, yang merupakan simbol dari rezim fasis.
Selain itu, pelatih timnas Italia saat itu, Vittorio Pozzo, juga menerapkan gaya latihan militeristik yang cenderung ekstrem.
Akibatnya, kehadiran tim Italia ini memicu berbagai protes anti-fasis yang terjadi di berbagai kota di Eropa, karena banyak pihak merasa olahraga seharusnya bebas dari politik.
Meskipn Italia akhirnya dapat menyabet gelar juara, kontroversi ini tetap menjadi pengingat bagaimana Piala Dunia dapat dimanfaatkan sebagai alat politik.
3. Piala Dunia 1962
Piala Dunia edisi 1962 menghadirkan salah satu pertandingan paling brutal dalam sejarah Piala Dunia. Pertandingan tersebut mempertemukan Italia dengan tuan rumah Chile.
Bahkan, sebelum pertandingan, ketegangan sudah muncul karena media Italia menyebut Santiago, ibu kota Chile, sebagai “sampah” akibat bencana alam gempa yang belum lama terjadi sebelum turnamen dimulai.
Hal ini ternyata terbawa hingga di lapangan. Kedua tim bertanding dengan agresivitas tinggi sejak detik pertama.
Pelanggaran demi pelanggaran pun tidak dapat dihindari, bahkan beberapa duel fisik berubah menjadi perkelahian terbuka. Puncaknya, polisi harus turun tangan untuk menenangkan para pemain.
Meskipun pertandingan berlangsung dengan tensi yang cukup panas, ada kejanggalan yang terjadi, wasit Ken Ashton hanya mengeluarkan dua kartu merah, dan keduanya diberikan ke pemain Italia.
Hasil akhir pertandingan ini adalah 0-2 untuk kemenangan tuan rumah Chile.
4. Kontroversi Piala Dunia 1966
Kontroversi selanjutnya terjadi di gelaran ke-8 Piala Dunia yang dihelat di Inggris pada tahun 1966.
Pada Piala Dunia ini, ada satu gol yang bisa dibilang menjadi gol yang paling kontroversial dalam sejarah sepak bola. Gol tersebut tercipta di babak final, saat sang tuan rumah Inggris menghadapi Jerman Barat
Jerman Barat dan Inggris saat itu diisi oleh pemain pemain legendaris, seperti Franz Beckenbauer, Roger Hunt hingga Bobby Charlton. Tidak heran, pertandingan berlangsung sengit dan sempat imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu.
Sampai akhirnya pada menit ke-101, striker Inggris Geoff Hurst melepaskan tembakan yang membentur mistar, memantul ke bawah, dan keluar gawang.
Wasit asal Swiss, Gottfried Dienst, sempat ragu apakah bola sudah melewati garis, namun hakim garis dari Uni Soviet, Tofik Bakhramov, menyatakan golnya sah. Inggris pun akhirnya menang dengan skor akhir 4-2.
Gol ini tetap menjadi bahan perdebatan hingga saat ini, dan muncul legenda “kutukan Jerman” karena setelah itu Jerman Barat baru juara lagi bertahun-tahun kemudian.
Selain itu, edisi ini juga diwarnai boikot besar dari negara-negara Afrika. Sebanyak 31 negara menolak bermain karena merasa tidak diperlakukan adil, menuntut satu tempat otomatis untuk perwakilan Afrika.
5. Piala Dunia 1978
Kontroversi Piala Dunia selanjutnya terjadi pada Piala Dunia 1978, dan lagi-lagi unsur polik menjadi sorotan utamanya.
Argentina saat itu diperintah oleh diktator militer yang dikenal kejam di bawah Jorge Rafael Videla, hal ini memicu boikot internasional dari berbagai pihak, termasuk kelompok-kelompok eksil Argentina, sebagai protes terhadap pelanggaran HAM.
Meskipun begitu, turnamen tetap berjalan, dan Argentina pun berhasil meraih gelar juara. Edisi ini kemudian dikenal sebagai contoh “sportswashing”, yaitu penggunaan olahraga untuk menutupi masalah politik dan HAM yang serius.
6. Piala Dunia 1986
Tidak bisa dipungkiri bahwa Diego Maradona benar-benar mencuri perhatian di Piala Dunia 1986 lalu.
Namun, aksi gemilang Maradona harus dinodai dengan kontroversi, dan kontroversi yang paling besar dan di ingat pecinta sepak bola hingga saat ini muncul saat Argentina menghadapi Inggris di perempat final.
Maradona mencetak gol menggunakan tangannya, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Gol Tangan Tuhan.”
Wasit mengesahkan gol itu, dan Maradona baru mengaku beberapa tahun kemudian bahwa dia memang menggunakan tangannya. Kontroversi ini tidak hanya soal gol, tetapi juga soal integritas pertandingan.
Selain itu, edisi ini juga diwarnai Saltillo Affair, di mana pemain Portugal mengancam mogok kerja karena fasilitas buruk, pembayaran yang terlambat, dan ketidakpuasan terhadap federasi mereka.
Portugal akhirnya tersingkir di babak grup, dan kontroversi ini berdampak panjang bagi sepak bola Portugal.
7. Piala Dunia 2002
Piala Dunia 2002 adalah edisi pertama yang digelar di Asia, bersama oleh Korea Selatan dan Jepang.
Kedua tuan rumah sempat terlibat perselisihan politik sebelum turnamen, termasuk protes di Seoul terhadap Jepang.
Namun kontroversi terbesar muncul dari keberhasilan Korea Selatan menyingkirkan tim-tim besar seperti Italia, Spanyol, dan Portugal.
Banyak keputusan wasit yang dipertanyakan, termasuk kartu merah Fransesco Totti saat Italia menghadapi Korea Selatan.
Totti dianggap diving, padahal jelas dirinya dilanggar. Keputusan ini menimbulkan tuduhan bahwa Korea Selatan diuntungkan sebagai tuan rumah.
8. Piala Dunia 2006
Selain insiden Zidane vs Materazzi di final, Piala Dunia 2006 juga menghadirkan kontroversi lain yang sangat langka, yaitu kesalahan wasit yang unik.
Wasit Inggris Graham Poll memberikan tiga kartu kuning kepada pemain yang sama, Josip Simunic dari Kroasia, dalam pertandingan Kroasia vs Australia.
Simunic mendapat kartu pertama karena melanggar Harry Kewell pada menit ke-61, kartu kedua pada menit ke-90, dan baru menerima kartu merah setelah kartu ketiga.
Kesalahan ini menjadi sorotan besar karena menunjukkan lemahnya koordinasi antara wasit, asisten, dan pengawas pertandingan di Piala Dunia.
9. Piala Dunia 2010
Pada Piala Dunia 2010, Inggris menghadapi Jerman di babak 16 besar. Frank Lampard melepaskan tendangan jarak jauh yang melewati garis gawang Jerman.
Namun, wasit tidak mengesahkan gol tersebut karena teknologi garis gawang dan VAR belum digunakan. Inggris akhirnya kalah dan tersingkir.
Kontroversi ini memicu diskusi panjang di seluruh dunia tentang perlunya teknologi dalam sepak bola untuk mencegah kesalahan fatal.
10. Piala Dunia 2014
Kontroversi Piala Dunia 2014 muncul sejak hari pertama, saat laga pembuka antara Brasil dan Kroasia.
Wasit Jepang, Yuichi Nishimura, dianggap berat sebelah. Ia membatalkan satu gol Kroasia dan memberikan penalti kepada Brasil akibat aksi menjatuhkan diri striker Fred.
Pemain Kroasia mengeluhkan komunikasi dengan wasit yang buruk, bahkan disebut tidak mengerti bahasa Inggris.
Banyak pihak menilai keputusan wasit memengaruhi jalannya pertandingan dan hasil akhir turnamen.
11. Piala Dunia 2018
Piala Dunia 2018 di Rusia juga diwarnai kontroversi politik. Setelah kasus keracunan Salisbury, muncul potensi boikot, tapi tidak ada tindakan tegas.
Namun, kelompok punk feminis Pussy Riot menyerbu lapangan saat final Prancis vs Kroasia sebagai aksi protes terhadap pelanggaran HAM di Rusia.
Invasi lapangan berlangsung 25 detik, menarik perhatian dunia, dan menambah daftar kontroversi yang membuktikan Piala Dunia bukan hanya soal olahraga, tapi juga arena protes global.
12. Piala Dunia 2022
Piala Dunia 2022 menjadi sorotan besar karena isu HAM dan logistik. Banyak pertandingan dibatasi tayang di area publik di Eropa, ada aksi protes terhadap pemerintah Iran, dan jadwal turnamen diubah ke musim dingin, yang mengganggu kalender sepak bola global.
Suhu panas ekstrem, infrastruktur baru yang kontroversial, dan budaya lokal yang dianggap sulit untuk turnamen internasional menambah kontroversi.
Isu ini membuktikan bahwa Piala Dunia di Qatar lebih dari sekadar pertandingan sepak bola, tetapi juga arena debat global tentang hak asasi manusia dan etika penyelenggaraan olahraga.
Piala Dunia memang lebih dari sekadar sepak bola. Dari lapangan hijau hingga politik global, setiap edisi meninggalkan cerita kontroversial yang membekas.
Dari “Tangan Tuhan” Maradona hingga gol Lampard yang tidak disahkan, semua momen ini membuktikan bahwa Piala Dunia selalu menjadi panggung drama global yang tak pernah kehilangan daya tariknya dan selalu membuat kita menunggu edisi berikutnya dengan penuh antisipasi.